Saturday, May 29, 2010

BURUNG RANGKONG SULAWESI

oleh
Zahmianur S.Hut

Indonesia memiliki jenis rangkong paling banyak di dunia yaitu 13 jenis yang tersebar hampir diseluruh kepulauan Indonesia (Mutiara, 1995 dalam Pratama, 2006). Dengan jumlah tersebut menjadikan Indonesia Negara terpenting di Asia untuk konservasi rangkong (O′ Brien dan Kinnaird, 1996 dalam Hadiprakarsa, 2001). Dan dari 13 jenis tersebut Indonesia bertanggung jawab melestarikan, tiga jenis rangkong yang hanya terdapat di Indonesia (endemik) yaitu rangkong sumba (Rhiteceros exarhatus), rangkong sulawesi ekor putih/kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus) dan yang berekor hitam (Rhiteceros casidix) (Mutiara, 1995 dalam Pratama, 2006).

Rangkong merupakan burung dari dunia lama famili Buceritadae yang masih berkerabat dekat dengan Hupo (Ensiklopedia Indonesia, 1989). Burung rangkong berukuran besar dengan panjang badan mencapai 110 cm, postur badan terlihat gagah terutama pada jantan memiliki “casque” besar di atas hidung dan berwarna merah, paruh besar berwarna kuning gading bulu dan chesnut lehernya berwarna biru, bulu badan berwarna hitam bulu ekor berwarna putih. Burung ini juga termasuk binatang omnivora karena makanannya berupa binatang kecil, burung dan buah-buahan serta biji-bijian kadal katak juga telur yang baru menetas menyerupai makanan yang disukainya (Alam Sumatra dan Pembangunan, 2000).

Burung rangkong adalah burung pemakan buah dan serangga, ketika mengeram burung rangkong betina beristirahat dalam lubang pohon yang diselimuti lumpur, sangkar tertutup ini hanya meninggalkan sedikit celah untuk sang jantan menyuplai makanan. Begitu telurnya menetas rangkong betina akan menerobos lumpur penutup sangkar dan menutupnya kembali agar anak-anaknya tetap aman di dalamnya (Suryadi, 1994 dalam Pratama, 2006).

Burung rangkong merupakan binatang yang menghabiskan waktu dalam sarang saat berbiak dan bersarang di lubang alami, rangkong muda sangat tergantung kepada induknya untuk peyediaan makanan. Dalam bersarang burung rangkong tidak bisa membuat lubang untuk sarang, mereka hanya menggunakan lubang yang berbentuk secara alami yang disesuaikan dengan ukuran, bentuk dan ketinggian lubang (Poonswad et. Al, 1986 dalam Hadiprakarsa, 2001).

Burung rangkong julang sulawesi (Rhiteceros casidix) dan kangkareng sulawesi (Penelopides exarhatus), merupakan satwa endemik sulawesi yang dilindungi berdasarkan peraturan perlindungan Binatang Liar No. 296 tahun 1931, Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, yang dipertegas lagi dengan SK Menteri No.301/KPTS-II/1991 tentang inventarisasi satwa yang dilindungi Undang-undang dan No.882/KPTS-II/1992 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Jenis Satwa yang lindungi.

DAFTAR PUSTAKA

- Pratama, A. E., 2006. Valuasi Ekonomi Burung Rangkong Di Sekitar Taman Nasional Lore Lindu Desa Rompo Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso Propinsi Sulawesi Tengah. Skripsi. Program Studi Manajemen Hutan, Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. (Tidak dipubliksikan).

- Ensiklopedia Indonesia, 1989. Seri Fauna Burung. PT. Ichtiar Van Hoeven, Jakarta.

- Alam Sumatra dan Pembangunan, 2000. Rangkong (Hornbill).

- http//www.warsi.or.id,bulletin/alamsumatra/AspEdisilu/aspw21.htm. Diakses 29 Juni 2008.

No comments: